Kamis, 22 Juli 2010

amal yang istiqomah

Saudaraku, yang semoga selalu
dirahmati oleh Allah Ta ’ala. Saat
ini kita telah berada di
pertengahan bulan Syawwal. Di
bulan Ramadhan yang telah kita
lalui dapat kita saksikan bahwa
kaum muslimin begitu giat
dalam beramal. Kita lihat di
antara mereka gemar untuk
mentadabburi Kalamullah,
menghidupkan malam
Ramadhan dengan shalat
tarawih, juga sebagian lainnya
giat untuk berbagi dengan
sesama melalui kelebihan harta
yang mereka miliki. Namun
yang sangat disayangkan,
amalan-amalan ketaatan
semacam ini kadang terhenti
setelah Ramadhan itu berakhir.
Amalan-amalan tersebut terasa
hanya musiman saja karena
baru muncul dan laris manis di
bulan Ramadhan, namun setelah
Ramadhan berakhir akan lenyap
begitu saja. Padahal amalan
yang paling baik dan dicintai oleh
Allah tidaklah demikian.
Pada kesempatan kali ini, kami
akan mengangkat pembahasan
yang cukup menarik yaitu
bagaimana seharusnya kita
beramal. Apakah amalan kita
haruslah banyak? Ataukah lebih
baik amalan kita itu rutin
walaupun sedikit? Itulah yang
akan kami ketengahkan ke
hadapan pembaca pada tulisan
yang sederhana ini. Hanya Allah
yang senantiasa memberi segala
kemudahan.
Rajin Ibadah Janganlah
Sesaat
Wahai saudaraku … Perlu
diketahui bahwa ibadah tidak
semestinya dilakukan hanya
sesaat di suatu waktu. Seperti ini
bukanlah perilaku yang baik.
Para ulama pun sampai
mengeluarkan kata-kata pedas
terhadap orang yang rajin shalat
– misalnya- hanya pada bulan
Ramadhan saja. Sedangkan
pada bulan-bulan lainnya amalan
tersebut ditinggalkan. Para
ulama kadang mengatakan,
“Sejelek-jelek orang adalah yang
hanya rajin ibadah di bulan
Ramadhan saja. Sesungguhnya
orang yang sholih adalah orang
yang rajin ibadah dan rajin
shalat malam sepanjang tahun ”.
Ibadah bukan hanya dilakukan
pada bulan Ramadhan, Rajab
atau Sya ’ban saja. Sebaik-baik
ibadah adalah yang dilakukan
sepanjang tahun.
Asy Syibliy pernah ditanya,
” Bulan manakah yang lebih
utama, Rajab ataukah Sya’ban?”
Beliau pun menjawab, ”Jadilah
Rabbaniyyin dan janganlah
menjadi Sya ’baniyyin.”
Maksudnya adalah jadilah
hamba Rabbaniy yang rajin
ibadah di setiap bulan,
sepanjang tahun dan jangan
hanya beribadah pada bulan
Sya ’ban saja. Kami kami juga
dapat mengatakan, ”Jadilah
Rabbaniyyin dan janganlah
menjadi Romadhoniyyin. ”
Maksudnya, beribadahlah secara
kontinu (ajeg) sepanjang tahun
dan jangan hanya beribadah
pada bulan Ramadhan saja. [1]
Begitu pula amalan suri tauladan
kita –Muhammad shallallahu
’alaihi wa sallam- adalah amalan
yang rutin dan bukan musiman
pada waktu atau bulan tertentu.
Itulah yang beliau contohkan
kepada kita. ’Alqomah pernah
bertanya pada Ummul
Mukminin ’Aisyah mengenai
amalan Rasulullah shallallahu
’ alaihi wa sallam, ”Apakah beliau
mengkhususkan hari-hari
tertentu untuk beramal ?” ’Aisyah
menjawab,
َال. َناَك ُهُلَمَع
ًةَميِد
”Beliau tidak mengkhususkan
waktu tertentu untuk beramal.
Amalan beliau adalah amalan
yang kontinu (ajeg). ”[2]
Tanda Diterimanya Suatu
Amalan
Saudaraku ... Perlulah engkau
ketahui bahwa tanda
diterimanya suatu amalan adalah
apabila amalan tersebut
membuahkan amalan ketaatan
berikutnya. Di antara bentuknya
adalah apabila amalan tersebut
dilakukan secara kontinu (rutin).
Sebaliknya tanda tertolaknya
suatu amalan (alias tidak
diterima), apabila amalan
tersebut malah membuahkan
kejelekan setelah itu. Cobalah kita
simak ungkapan para ulama
yang mendalam ilmunya
mengenai hal ini.
Sebagian ulama salaf
mengatakan,
ْنِم ِباَوَث
ِةَنَسَحلا
ُةَنَسَحلا
اَهَدْعَب، ْنِمَو
ِءاَزَج
ِةَئِّيَّسلا
ُةَئِّيَّسلا
اَهَدْعَب
“Di antara balasan kebaikan
adalah kebaikan selanjutnya dan
di antara balasan kejelekan
adalah kejelekan selanjutnya. ”[3]
Ibnu Rajab menjelaskan hal di
atas dengan membawakan
perkataan salaf lainnya, ”Balasan
dari amalan kebaikan adalah
amalan kebaikan selanjutnya.
Barangsiapa melaksanakan
kebaikan lalu melanjutkan
dengan kebaikan lainnya, maka
itu adalah tanda diterimanya
amalan yang pertama. Begitu
pula barangsiapa yang
melaksanakan kebaikan, namun
malah dilanjutkan dengan
amalan kejelekan, maka ini
adalah tanda tertolaknya atau
tidak diterimanya amalan
kebaikan yang telah
dilakukan. ”[4]
Pentingnya Beramal Kontinu
(Rutin), Walaupun Sedikit
Di antara keunggulan suatu
amalan dari amalan lainnya
adalah amalan yang rutin
(kontinu) dilakukan. Amalan
yang kontinu –walaupun sedikit-
itu akan mengungguli amalan
yang tidak rutin –meskipun
jumlahnya banyak-. Amalan
inilah yang lebih dicintai oleh
Allah Ta ’ala. Di antara dasar dari
hal ini adalah dalil-dalil berikut.
Dari ’Aisyah –radhiyallahu
’anha-, beliau mengatakan
bahwa Rasulullah shallallahu
’ alaihi wa sallam bersabda,
ُّبَحَأ ِلاَمْعَألا
ىَلِإ ِهَّللا
ىَلاَعَت اَهُمَوْدَأ
ْنِإَو َّلَق
”Amalan yang paling dicintai
oleh Allah Ta’ala adalah amalan
yang kontinu walaupun itu
sedikit. ” ’Aisyah pun ketika
melakukan suatu amalan selalu
berkeinginan keras untuk
merutinkannya. [5]
Dari ’Aisyah, beliau mengatakan
bahwa Rasulullah shallallahu
’ alaihi wa sallam ditanya
mengenai amalan apakah yang
paling dicintai oleh Allah. Rasul
shallallahu ’alaihi wa sallam
menjawab,
ُهُمَوْدَأ ْنِإَو
َّلَق
”Amalan yang rutin (kontinu),
walaupun sedikit.”[6]
’Alqomah pernah bertanya pada
Ummul Mukminin ’Aisyah,
”Wahai Ummul Mukminin,
bagaimanakah Rasulullah
shallallahu ’alaihi wa sallam
beramal? Apakah beliau
mengkhususkan hari-hari
tertentu untuk beramal ?” ’Aisyah
menjawab,
َال. َناَك ُهُلَمَع
ًةَميِد ْمُكُّيَأَو
ُعيِطَتْسَي اَم
َناَك ُلوُسَر
ِهَّللا -ىلص هللا هيلع
ملسو- ُعيِطَتْسَي
”Tidak. Amalan beliau adalah
amalan yang kontinu (rutin
dilakukan). Siapa saja di antara
kalian pasti mampu melakukan
yang beliau shallallahu ’alaihi wa
sallam lakukan.”[7]
Di antaranya lagi Nabi shallallahu
’ alaihi wa sallam contohkan
dalam amalan shalat malam.
Pada amalan yang satu ini,
beliau menganjurkan agar
mencoba untuk merutinkannya.
Dari ’Aisyah, Nabi shallallahu
’alaihi wa sallam bersabda,
اَي اَهُّيَأ ُساَّنلا
ْمُكْيَلَع َنِم
ِلاَمْعَألا اَم
َنوُقيِطُت
َّنِإَف َهَّللا َال
ُّلَمَي ىَّتَح
اوُّلَمَت َّنِإَو
َّبَحَأ ِلاَمْعَألا
ىَلِإ ِهَّللا اَم
َمِووُد ِهْيَلَع
ْنِإَو َّلَق
”Wahai sekalian manusia,
lakukanlah amalan sesuai
dengan kemampuan kalian.
Karena Allah tidaklah bosan
sampai kalian merasa bosan.
(Ketahuilah bahwa) amalan yang
paling dicintai oleh Allah adalah
amalan yang kontinu (ajeg)
walaupun sedikit. ”[8]
Keterangan Ulama Mengenai
Amalan yang Kontinu
Mengenai hadits-hadits yang
kami kemukakan di atas telah
dijelaskan maksudnya oleh ahli
ilmu sebagai berikut.
Ibnu Rajab Al Hambali
mengatakan, ”Yang dimaksud
dengan hadits tersebut adalah
agar kita bisa pertengahan dalam
melakukan amalan dan berusaha
melakukan suatu amalan sesuai
dengan kemampuan. Karena
amalan yang paling dicintai oleh
Allah adalah amalan yang rutin
dilakukan walaupun itu sedikit. ”
Beliau pun menjelaskan,
” Amalan yang dilakukan oleh
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam
adalah amalan yang terus
menerus dilakukan (kontinu).
Beliau pun melarang
memutuskan amalan dan
meninggalkannya begitu saja.
Sebagaimana beliau pernah
melarang melakukan hal ini pada
sahabat ’Abdullah bin ’Umar.”[9]
Yaitu Ibnu ’Umar dicela karena
meninggalkan amalan shalat
malam.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al
‘Ash radhiyallahu ‘anhuma,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam berkata padaku,
اَي َدْبَع ِهَّللا ،
َال ْنُكَت َلْثِم
ٍنَالُف ، َناَك
ُموُقَي َلْيَّللا
َكَرَتَف َماَيِق
ِلْيَّللا
“Wahai ‘Abdullah, janganlah
engkau seperti si fulan. Dulu dia
biasa mengerjakan shalat
malam, namun sekarang dia
tidak mengerjakannya lagi. ” [10]
Para salaf pun mencontohkan
dalam beramal agar bisa
dikontinukan.
Al Qosim bin Muhammad
mengatakan bahwa ’Aisyah
ketika melakukan suatu amalan,
beliau selalu berkeinginan keras
untuk merutinkannya. [11]
Al Hasan Al Bashri mengatakan,
” Wahai kaum muslimin, rutinlah
dalam beramal, rutinlah dalam
beramal. Ingatlah! Allah tidaklah
menjadikan akhir dari seseorang
beramal selain kematiannya. ”
Beliau rahimahullah juga
mengatakan, ”Jika syaithon
melihatmu kontinu dalam
melakukan amalan ketaatan, dia
pun akan menjauhimu. Namun
jika syaithon melihatmu beramal
kemudian engkau
meninggalkannya setelah itu,
malah melakukannya sesekali
saja, maka syaithon pun akan
semakin tamak untuk
menggodamu. ”[12]
Maka dari penjelasan ini
menunjukkan dianjurkannya
merutinkan amalan yang biasa
dilakukan, jangan sampai
ditinggalkan begitu saja dan
menunjukkan pula dilarangnya
memutuskan suatu amalan
meskipun itu amalan yang
hukumnya sunnah.
Hikmah Mengapa Mesti
Merutinkan Amalan
Pertama, melakukan amalan
yang sedikit namun kontinu
akan membuat amalan tersebut
langgeng, artinya akan terus
tetap ada.
An Nawawi rahimahullah
mengatakan, ”Ketahuilah bahwa
amalan yang sedikit namun rutin
dilakukan, itu lebih baik dari
amalan yang banyak namun
cuma sesekali saja dilakukan.
Ingatlah bahwa amalan sedikit
yang rutin dilakukan akan
melanggengkan amalan
ketaatan, dzikir, pendekatan diri
pada Allah, niat dan keikhlasan
dalam beramal, juga akan
membuat amalan tersebut
diterima oleh Sang Kholiq
Subhanahu wa Ta’ala. Amalan
sedikit yang rutin dilakukan akan
memberikan ganjaran yang
besar dan berlipat dibandingkan
dengan amalan yang sedikit
namun sesekali saja
dilakukan. ”[13]
Kedua, amalan yang kontinu
akan terus mendapat pahala.
Berbeda dengan amalan yang
dilakukan sesekali saja –
meskipun jumlahnya banyak-,
maka ganjarannya akan terhenti
pada waktu dia beramal.
Bayangkan jika amalan tersebut
dilakukan terus menerus, maka
pahalanya akan terus ada
walaupun amalan yang
dilakukan sedikit.
Ibnu Rajab Al Hambali
mengatakan, ”Sesungguhnya
seorang hamba hanyalah akan
diberi balasan sesuai amalan
yang ia lakukan. Barangsiapa
meninggalkan suatu amalan -
bukan karena udzur syar ’i
seperti sakit, bersafar, atau
dalam keadaan lemah di usia
senja-, maka akan terputus
darinya pahala dan ganjaran jika
ia meninggalkan amalan
tersebut. ”[14] Namun perlu
diketahui bahwa apabila
seseorang meninggalkan amalan
sholih yang biasa dia rutinkan
karena alasan sakit, sudah tidak
mampu lagi melakukannya,
dalam keadaan bersafar atau
udzur syar’i lainnya, maka dia
akan tetap memperoleh
ganjarannya. Hal ini berdasarkan
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam,
اَذِإ َضِرَم
ُدْبَعْلا ْوَأ
َرَفاَس ، َبِتُك
ُهَل ُلْثِم اَم َناَك
ُلَمْعَي اًميِقُم
اًحيِحَص
“Jika seseorang sakit atau
melakukan safar, maka dia akan
dicatat melakukan amalan
sebagaimana amalan rutin yang
dia lakukan ketika mukim (tidak
bepergian) dan dalam keadaan
sehat. ”[15]
Ketiga, amalan yang sedikit tetapi
kontinu akan mencegah
masuknya virus ”futur” (jenuh
untuk beramal). Jika seseorang
beramal sesekali namun banyak,
kadang akan muncul rasa malas
dan jenuh. Sebaliknya jika
seseorang beramal sedikit
namun ajeg (terus menerus),
maka rasa malas pun akan
hilang dan rasa semangat untuk
beramal akan selalu ada. Itulah
mengapa kita dianjurkan untuk
beramal yang penting kontinu
walaupun jumlahnya sedikit.
Kadang kita memang
mengalami masa semangat dan
kadang pula futur (malas)
beramal. Sehingga agar amalan
kita terus menerus ada pada
masa-masa tersebut, maka
dianjurkanlah kita beramal yang
rutin walaupun itu sedikit.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa
sallam bersabda,
ِّلُكِلَو ٍلِمَع
ٌةَّرِش ، ِّلُكِلَو
ٍةَّرِش ٌةَرْتَف ،
ْنَمَف ْنُكَي
ُهُتَرْتَف ىَلِإ
ِةَّنُّسلا ، ِدَقَف
ىَدَتْها ، ْنَمَو
ُكَي ىَلِإ ِرْيَغ
َكِلَذ ، ْدَقَف
َّلَض
”Setiap amal itu pasti ada masa
semangatnya. Dan setiap masa
semangat itu pasti ada masa
futur (malasnya). Barangsiapa
yang kemalasannya masih
dalam sunnah (petunjuk) Nabi
shallallahu ’alaihi wa sallam,
maka dia berada dalam
petunjuk. Namun barangsiapa
yang keluar dari petunjuk
tersebut, sungguh dia telah
menyimpang. ”[16]
Apabila seorang hamba berhenti
dari amalan rutinnya, malaikat
pun akan berhenti
membangunkan baginya
bangunan di surga disebabkan
amalan yang cuma sesaat.
Al Hasan Al Bashri mengatakan,
” Sesungguhnya bangunan di
surga dibangun oleh para
Malaikat disebabkan amalan
dzikir yang terus dilakukan.
Apabila seorang hamba
mengalami rasa jenuh untuk
berdzikir, maka malaikat pun
akan berhenti dari pekerjaannya
tadi. Lantas malaikat pun
mengatakan, ”Apa yang terjadi
padamu, wahai fulan?” Sebab
malaikat bisa menghentikan
pekerjaan mereka karena orang
yang berdzikir tadi mengalami
kefuturan (kemalasan) dalam
beramal. ”
Oleh karena itu, ingatlah
perkataan Ibnu Rajab Al
Hambali, ”Sesungguhnya Allah
lebih mencintai amalan yang
dilakukan secara kontinu (terus
menerus). Allah akan memberi
ganjaran pada amalan yang
dilakukan secara kontinu
berbeda halnya dengan orang
yang melakukan amalan sesekali
saja. ”[17]
Apakah Kontinuitas Perlu
Ada dalam Setiap Amalan?
Syaikh Ibrahim Ar Ruhailiy
hafizhohullah mengatakan,
” Tidak semua amalan mesti
dilakukan secara rutin, perlu
kiranya kita melihat pada ajaran
dan petunjuk Nabi shallallahu
’ alaihi wa sallam dalam hal
ini.”[18]
Untuk mengetahui manakah
amalan yang mesti dirutinkan,
dapat kita lihat pada tiga jenis
amalan berikut.
Pertama, amalan yang bisa
dirutinkan ketika mukim (tidak
bepergian) dan ketika bersafar.
Contohnya adalah puasa pada
ayyamul biid (13, 14, 15 H),
shalat sunnah qobliyah shubuh
(shalat sunnah fajar), shalat
malam (tahajud), dan shalat
witir. Amalan-amalan seperti ini
tidaklah ditinggalkan meskipun
dalam keadaan bersafar.
Ibnu ‘Abbas mengatakan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam selalu berpuasa pada
ayyamul biid (13, 14, 15 H) baik
dalam keadaan mukim (tidak
bersafar) maupun dalam
keadaan bersafar. ”[19]
Ibnul Qayyim mengatakan,
“ Termasuk di antara petunjuk
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
ketika bersafar adalah
mengqoshor shalat fardhu dan
tidak mengerjakan shalat sunnah
rawatib qobliyah dan ba ’diyah.
Yang biasa beliau tetap lakukan
adalah mengerjakan shalat
sunnah witir dan shalat sunnah
qabliyah shubuh. Beliau tidak
pernah meninggalkan kedua
shalat ini baik ketika bermukim
dan ketika bersafar. ”[20]
Ibnul Qayyim juga mengatakan,
“ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
tidak pernah meninggalkan
qiyamul lail (shalat malam) baik
ketika mukim maupun ketika
bersafar. ”[21]
Kedua, amalan yang dirutinkan
ketika mukim (tidak bepergian),
bukan ketika safar.
Contohnya adalah shalat sunnah
rawatib selain shalat sunnah
qobliyah shubuh sebagaimana
dijelaskan oleh Ibnul Qayyim
pada perkataan yang telah lewat.
Ketiga, amalan yang kadang
dikerjakan pada suatu waktu dan
kadang pula ditinggalkan.
Contohnya adalah puasa selain
hari Senin dan Kamis. Puasa
pada selain dua hari tadi boleh
dilakukan kadang-kadang,
misalnya saja berpuasa pada
hari selasa atau rabu.
Initinya, tidak semua amalan
mesti dilakukan secara rutin, itu
semua melihat pada ajaran dan
petunjuk Nabi shallallahu ’alaihi
wa sallam.
Penutup
Ketika ajal menjemput, barulah
amalan seseorang berakhir. Al
Hasan Al Bashri mengatakan,
” Sesungguhnya Allah Ta’ala
tidaklah menjadikan ajal (waktu
akhir) untuk amalan seorang
mukmin selain kematiannya. ”
Lalu Al Hasan membaca firman
Allah,
ْدُبْعاَو َكَّبَر
ىَّتَح َكَيِتْأَي
ُنيِقَيْلا
”Dan sembahlah Rabbmu
sampai datang kepadamu al
yaqin (yakni ajal). ” (QS. Al Hijr:
99).[22] Ibnu ’Abbas, Mujahid
dan mayoritas ulama
mengatakan bahwa ”al yaqin”
adalah kematian. Dinamakan
demikian karena kematian itu
sesuatu yang diyakini pasti
terjadi. Az Zujaaj mengatakan
bahwa makna ayat ini adalah
sembahlah Allah selamanya . Ahli
tafsir lainnya mengatakan,
makna ayat tersebut adalah
perintah untuk beribadah kepada
Allah selamanya, sepanjang
hidup.[23]
Ibadah seharusnya tidak
ditinggalkan ketika dalam
keadaan lapang karena
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
ْفَّرَعَت يَلِإ
ِهللا ىِف ِءاَخَّرلا
َكْفِرْعَي ىِف
ِةَّدِّشلا
“Kenalilah Allah di waktu lapang,
niscaya Allah akan mengenalimu
ketika susah. ” [24]
Semoga Allah menganugerahi
kita amalan-amalan yang selalu
dicintai oleh-Nya. Hanya Allah
yang memberi taufik. Segala puji
bagi Allah yang dengan segala
nikmat-Nya setiap kebaikan
menjadi sempurna.
***
Diselesaikan di Pangukan,
Sleman, Senin sore, 16 Syawwal
1430 H.
Penulis: Muhammad Abduh
Tuasikal
Artikel http://rumayhso.com
[1] Lihat Latho-if Al Ma’arif, Ibnu
Rajab Al Hambali, hal. 396-400,
Daar Ibnu Katsir, cetakan kelima,
1420 H [Tahqiq: Yasin
Muhammad As Sawaas]
[2] HR. Bukhari no. 1987 dan
Muslim no. 783
[3] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim,
Ibnu Katsir, 8/417, Daar
Thoyyibah, cetakan kedua, 1420
H [Tafsir Surat Al Lail]
[4] Latho-if Al Ma’arif, hal. 394.
[5] HR. Muslim no. 783, Kitab
shalat para musafir dan
qasharnya, Bab Keutamaan
amalan shalat malam yang
kontinu dan amalan lainnya.
[6] HR. Muslim no. 782
[7] HR. Muslim no. 783
[8] HR. Muslim no. 782
[9] Fathul Baari lii Ibni Rajab,
1/84, Asy Syamilah
[10] HR. Bukhari no. 1152
[11] HR. Muslim no. 783, Kitab
shalat para musafir dan
qasharnya, Bab Keutamaan
amalan shalat malam yang
kontinu dan amalan lainnya.
[12] Al Mahjah fii Sayrid Duljah,
Ibnu Rajab, hal. 71. Dinukil dari
Tajriidul Ittiba ’ fii Bayaani Asbaabi
Tafadhulil A’mal, Ibrahim bin
‘Amir Ar Ruhailiy, hal. 86, Daar
Al Imam Ahmad, cetakan
pertama, 1428 H.
[13] Syarh An Nawawi ‘ala
Muslim, 3/133, Mawqi’ Al Islam,
Asy Syamilah
[14] Lihat Fathul Baari lii Ibni
Rajab, 1/84
[15] HR. Bukhari no. 2996
[16] HR. Thobroni dalam Al
Mu’jam Al Kabir, periwayatnya
shohih. Lihat Majma’ Az Zawa’id
[17] Lihat Fathul Baari lii Ibni
Rajab, 1/84
[18] Tajridul Ittiba’, hal. 89. Untuk
pembahasan pada point ini,
kami berusaha sarikan dari kitab
tersebut.
[19] Diriwayatkan oleh An Nasa-i.
Syaikh Al Albani mengatakan
bahwa sanad hadits ini hasan.
Lihat Al Hadits Ash Shohihah
580.
[20] Zaadul Ma’ad, 1/456,
Muassasah Ar Risalah, cetakan
keempat, 1407 H. [Tahqiq:
Syu ’aib Al Arnauth, ‘Abdul Qadir
Al Arnauth]
[21] Zaadul Ma’ad, 1/311
[22] Latho-if Al Ma’arif, hal. 398.
[23] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul
Jauzi, 4/79, Mawqi’ At Tafaasir,
Asy Syamilah
[24] HR. Hakim. Syaikh Al Albani
dalam Shohih wa Dho’if Al Jami’
Ash Shogir mengatakan bahwa
hadits ini shohih

artikel:rumaysho.com